Marketplace Naik Fee Lagi - Saatnya Brand Indonesia Berhenti "Menyewa Lapak"
Mei 2026 membawa kabar yang tidak menyenangkan bagi jutaan seller online Indonesia: Shopee, TikTok Shop, dan Tokopedia kompak menaikkan biaya layanan.
Mei 2026 membawa kabar yang tidak menyenangkan bagi jutaan seller online Indonesia: Shopee, TikTok Shop, dan Tokopedia kompak menaikkan biaya layanan mereka secara bersamaan.
Mulai 1 Mei, biaya logistik baru diterapkan per pesanan. Mulai 18 Mei, cap komisi TikTok Shop melonjak dari Rp40.000 menjadi Rp650.000 per item. Biaya admin Shopee menyentuh 11,7% untuk kategori tertentu. Belum lagi biaya program Gratis Ongkir XTRA yang kini dibebankan ke seller.
Bagi brand yang 100% mengandalkan marketplace, ini pukulan nyata. Margin yang sudah tipis menjadi semakin tergerus.
Tapi bagi saya, ini bukan kejutan. Ini hanya tinggal menunggu waktu.
Marketplace Adalah "Lapak Sewa" dan Harga Sewanya Bisa Naik Kapan Saja
Ada ilusi nyaman yang sudah lama diyakini banyak pebisnis online Indonesia: "Selama aku jualan di Shopee atau TikTok Shop, bisnisku aman."
Tidak ada yang salah dengan jualan di marketplace. Platform-platform itu menawarkan akses ke ratusan juta pembeli potensial, sistem pembayaran yang sudah matang, dan kepercayaan konsumen yang terbangun. Untuk akuisisi pelanggan baru, marketplace masih salah satu channel paling efektif.
Masalahnya bukan di sana.
Masalahnya adalah ketika marketplace menjadi satu-satunya kanal penjualan. Ketika brand tidak punya database pelanggan sendiri. Ketika tidak ada traffic yang datang secara organik tanpa bayar iklan atau subsidi ongkir. Ketika setiap bulan, bisnis harus memulai dari nol lagi karena tidak ada retention yang dibangun.
Ini persis seperti menyewa lapak di mal: selama bayar sewa, kamu bisa buka toko. Tapi begitu harga sewa naik atau manajer mal memutuskan untuk ubah tata letak, turunkan visibilitasmu, atau mendatangkan kompetitor tepat di sebelah kiosmu - kamu tidak punya daya tawar apapun.
Apa yang Hilang Saat Kamu Hanya Jualan di Marketplace
Banyak seller yang sadar biaya marketplace mahal, tapi tidak menyadari ada yang jauh lebih mahal dari sekadar komisi: kehilangan data dan hubungan dengan pelanggan.
Di marketplace, kamu tidak tahu siapa yang membeli produkmu. Kamu tidak punya email mereka. Kamu tidak bisa mengirimkan penawaran khusus langsung ke mereka tanpa membayar iklan lagi. Kamu tidak bisa membangun loyalitas yang berkelanjutan.
Setiap transaksi di marketplace adalah transaksi yang "hilang" secara bisnis jangka panjang.
Bandingkan dengan brand yang punya owned channel:
- Website sendiri → setiap pengunjung bisa dikumpulkan datanya, diretarget, dan dikonversi ulang
- Email list → channel dengan ROI tertinggi dalam digital marketing; tidak ada algoritma yang mengontrolnya
- SEO → traffic yang datang secara organik tanpa bayar per klik, tumbuh dari waktu ke waktu
Aset-aset ini tidak bisa "diubah kebijakannya" oleh platform manapun. Mereka milikmu sepenuhnya.
Simulasi Sederhana: Berapa yang Hilang?
Mari kita hitung dengan produk seharga Rp300.000 yang dijual di TikTok Shop setelah kebijakan baru:
| Komponen Biaya | Estimasi |
|---|---|
| Harga Jual | Rp300.000 |
| Komisi platform (misal 5%) | Rp15.000 |
| Biaya logistik baru | Rp5.000 |
| Biaya Gratis Ongkir (jika ikut program) | Rp10.000–20.000 |
| Biaya iklan/boost (untuk tetap terlihat) | Rp15.000–30.000 |
| Total biaya platform | Rp45.000–70.000 |
| Persentase dari harga jual | 15–23% |
Belum dipotong HPP (Harga Pokok Produksi), ongkos packing, dan gaji karyawan.
Untuk brand dengan margin kotor di bawah 30%, angka-angka ini sangat menyempitkan ruang gerak.
Owned Channel Bukan Alternatif - Ini Asuransi Bisnis
Saya ingin meluruskan satu miskonsepsi: membangun owned channel bukan berarti harus keluar dari marketplace.
Brand yang paling sehat adalah brand yang menggunakan marketplace sebagai akuisisi channel (tempat menjangkau pembeli baru) sambil membangun owned channel sebagai retention dan monetisasi channel jangka panjang.
Artinya:
- Pembeli pertama bisa datang dari Shopee atau TikTok Shop
- Tapi begitu mereka masuk ke ekosistemmu (website, email list), mereka menjadi pelangganmu dan bukan pelanggan marketplace
Model ini yang membuat brand tidak panik setiap kali platform mengubah kebijakannya.
3 Langkah Konkret Memulai Owned Channel dari Nol
Jangan langsung pindah tapi persiapkan mulai sekarang.
1. Mulai dengan website yang sederhana tapi fungsional
Tidak perlu investasi ratusan juta dari awal. Website yang baik untuk memulai cukup bisa: menampilkan produk dengan jelas, menerima pembayaran, dan mengumpulkan email pengunjung. Platform seperti Shopify, WooCommerce, atau bahkan website custom bisa menjadi fondasi yang solid.
Yang penting: website sudah live dan mulai mengumpulkan data. Kesempurnaan bisa dikejar belakangan.
2. Bangun email list sejak hari pertama
Email list adalah aset paling underrated dalam digital marketing Indonesia. Satu email list dengan 5.000 subscriber yang engaged bisa menghasilkan konversi yang jauh lebih konsisten dibanding ribuan followers di media sosial.
Mulai dari hal sederhana: tawarkan diskon kecil atau konten eksklusif untuk siapa pun yang mau daftar ke newsletter. Setiap email yang kamu kumpulkan adalah pelanggan yang bisa kamu hubungi kapan pun tanpa bayar platform.
3. Investasi di SEO dari sekarang
SEO butuh waktu untuk menghasilkan hasil, tapi itulah yang membuatnya berharga: begitu kamu punya ranking organik untuk kata kunci yang relevan, traffic itu datang terus tanpa biaya per klik.
Fokus awal: optimasi halaman produk untuk kata kunci yang spesifik, bangun konten blog yang menjawab pertanyaan calon pelanggan, dan pastikan website mudah diakses di mobile (lebih dari 95% pengguna internet Indonesia akses via smartphone).
Ini Adalah Momentum Terbaik dan Manfaatkan Sekarang
Kenaikan biaya marketplace Mei 2026 adalah sebuah katalis.
Brand yang bergerak sekarang dengan mulai membangun website, email list, dan SEO akan punya keunggulan kompetitif 12 hingga 18 bulan dari brand yang masih menunggu dan berharap kebijakan platform tidak berubah lagi.
Sejarah sudah membuktikan: platform selalu berubah kebijakan. Algoritma berubah. Fee naik. Yang tidak berubah adalah nilai dari pelanggan yang kamu miliki sendiri.
Pertanyaannya bukan lagi "apakah perlu membangun owned channel?"
Pertanyaannya adalah: "kapan kamu mau mulai?"
Septian Bagus Widyacahya adalah founder Zenian, digital marketing agency yang membantu brand Indonesia membangun kanal penjualan yang mereka miliki sendiri. Ikuti di Instagram @tiansbw untuk update seputar D2C, SEO, dan e-commerce Indonesia.